Selasa, 06 Agustus 2013

Galau oh galaauuuuuu (iseng jadi pujangga)



Untuk Kamu



Aku ingat bagaimana caramu menyapa.
Aku ingat bagaimana caramu tertawa.
Aku ingat bagaimana caramu menunjukkan dunia. 
Meski kita sudah tak bertemu sekian lama.

Wajahmu bersih tanpa noda dan dosa.
Suaramu semerdu nyanyian sorga.
Kedamaian menyapa setiap kali kamu menawarkan telinga.
Itulah kenapa setiap bersamamu aku ingin berlama-lama.

Bersamamu aku merasa bisa menghadapi dunia.
Kamu selalu menjadi saksi.
Dari saat mimpiku baru sekedar wacana,
Sampai nanti saat mimpiku menjadi nyata.

Aku ingat saat pertama kali mata kita berteguran.
Senyum ramahmu menyuguhkan kenyamanan.
Dan senyum itu yang menciptakan sebuah keyakinan.
Kamu dan aku mungkin akan berjalan beriringan
Dari kamu aku belajar tentang keberanian.
Bersamamu aku berani membuat  keputusan.
Karena kamu, aku bisa mengalahkan keangkuhan.
Dan demi kamu juga aku berani melakukan pengorbanan.
Aku ingat hal-hal bodoh yang pernah aku lakukan dulu.
Menunggu kamu di depan rumah, untuk mengajak kamu jalan.
Dan sekian lama aku menunggu, ternyata kamu ketiduran.
Tapi itu semua tertebus oleh sebuah senyuman lebar diwajahmu.

Aku ingat saat pertama aku memelukmu.
Sengaja lama-lama aku bersandar di pundakmu.
Seakan-akan aku bisa menghirup aroma bebanmu di situ.
Saat itu aku merasa menjadi pria beruntung yang bisa menggengam tanganmu.
Walaupun aku sadar kau suda ada yang memiliki.

Dan aku tersadar, hidup ini mungkin terlalu panjang untuk cerita kita.
Aku sadar, masa lalu biarlah menjadi nostalgia.
Aku hargai keputusanmu untuk memilih dia dan menutup bab terakhir cerita cinta kita.
Aku yakin, ini saatnya kamu membiarkanku sendiri menghadapi dunia.
Karena hanya kamu yang bisa benar-benar mengenaliku  apa adanya.

Awalnya, aku mengira waktu lah yang patut disalahkan.
Kamu datang disaat yang tepat bagiku, tapi aku datang disaat yang tidak tepat bagimu.
Tapi sekarang aku mengerti, kitalah yang patut dipertanyakan.
Mungkinkah cinta ini hanya sekedar selingan?
Atau cinta ini layak dibawa hingga akhir kehidupan?



Aku percaya ‘waktu’ tak pernah salah.
Aku percaya ‘waktu’ tak mampu membuat cinta musnah.
Aku percaya ‘waktu’ tak pernah kejam.
Aku percaya ‘waktu’ justru mendidik kiya jadi pasangan yang hebat.

Tapi tampaknya kini kau menyerah.
Dan aku pun tak bisa melawan atau menebar amarah.
Karena kisah ini berawal dengan pertemuan yang tak terduga.
Dan aku tak ingin semuanya diakhiri dengan rasa gelisah.

Aku ikhlas melepaskanmu bersama dia.
Akan ku ceritakan kisah kita kepada anak-cucuku.
Agar mereka tau, aku pernah menghidupi kisah cinta sehebat itu.
Agar mereka sadar, cinta itu tak hanya sekedar “AKU MENCINTAIMU”
Tapi bagaiman melihat “KEBAHAGIAANMU”

Selamat tinggal cinta.
Terima kasih untuk pelajarannya.
Aku tak pernah berpikir ini semua sia-sia.
Justru kisah ini membuatku semakin dewasa.
Untuk menyikapi ceritaku di bab berikutnya 
Sampai jumpa dihari yang lebih baik.
Mungkin saat ini kita adalah dua tokoh di film yang berbeda. 
With Love,

Jomblo sibuk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar